Give up?
Give up on your half way? Big NO.
Tuhan mengatakan bahwa akan ada banyak yang memulai, tetapi hanya akan ada sedikit yang setia hingga akhir.
Ibarat mengejar sebuah cahaya, yang didapat hanyalah sebuah bayangan semu.
Ya, permasalahan inilah yang sedang kupergumulkan beberapa hari ini.
Jujur saja, beberapa hari yang lalu, aku telah melakukan sidang proposal pertama. Berbagai perasaan berkecamuk dihari itu. Rasa takut salah, ga PD, takut lupa ditengah presentasilah, takut ini itu dsb. Aku memulainya dengan cukup mulus. Rasa kepercayaan diriku yang awalnya rendah, perlahan-lahan mulai meningkat seiring aku memulai presentasi materi skripsiku ini. Akhirnya tiba waktu sesi pemberian kritik dan masukan. Tidak ada yang masalah yang fatal pada presentasiku. Dosen A hanya meninjau ulang backgroundku yang banyak tidak berhubungan satu sama lain, serta beberapa kesalahan grammar yang wajar. Kemudian dosen B pun memberikan pertanyaan yang aku takutkan selama ini. Memang, pada saat aku menyusun skripsi tersebut aku merasakan ada keganjilan pada teori yang kugunakan. Aku sudah beberapa kali menanyakan keganjilan tersebut pada kedua dosbingku, dan tanggapan mereka biasa saja. Jadi aku berpikir bahwa hal itu bukan sesuatu yang terlalu penting. Namun, aku salah. Pertanyaan itulah yang sangat menohok ku. Bagaimana bisa seorang dosbing utama tidak paham pada teori yang digunakan anak didiknya. Yang katanya selalu mengumpulkan jutaan jenis buku. Bahkan dosbing keduaku yang bukan ahli dibidangnya bahkan lebih bisa membelaku ketika aku disudutkan. Marah? Iya. Sedih? Iya. Kecewa? Sangat. Hal inilah yang membuatku menjadi satu-satunya orang yang menangis setelah sidang proposal tersebut berakhir. Aku merasa hasil jerih payahku berbulan-bulan terasa sia-sia. Aku harus mengulanginya lagi dari awal. Fyi, Kedua dosbingku memang sangat kontras sifatnya. Yang satu begitu mengayomi, yang satunya sangat-sangat tidak mudah dipahami. Sedangkan, dosbing yang sangat membingungkan itulah yang menjadi dosbing utama untuk topik ku ini. Karena cara penanganan yang salah, aku, yang seharusnya bisa lulus desember ini terpaksa harus tinggal lebih lama lagi. Sebenarnya dimana letak kesalahan ini? Salahkah aku jika memilih topik ini? Sampai aku merasa minder sendiri dengan topik ini. Atau salahkah aku dibimbing dosbing ini? Yang bukannya membimbingku ke jalan yang benar, namun malah makin menyesatkan jalanku. Aku sudah mencoba bersabar hingga hari ini. Bahkan ketika aku meminta sarannya sebelum aku memulai merevisi pun, malah aku dilempar lagi seperti bola pingpong. Memang diriku terlihat bulat, tapi hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk melemparkan tanggungjawabmu sebagai dosbing utama terhadap nasib seseorang begitu saja seperti bola pingpong. "Tanyakan saja pada pengujinya bagaimana kelanjutannya, mereka seharusnya bisa memberikan saran ketika mereka memberiku kritik." Pernyataan dosbing macam apa inikah? Aku mecoba sabar, menanyakan kembali ke dosen penguji. Dosen penguji pun menyarankan aku untuk mengubah metodologinya atau mengubah teorinya. Dua-duanya bukan pilihan yang bagus buatku. Dengan waktu yang tidak banyak lagi, aku masih diharuskan merevisi semuanya lagi dari awal. Ingin menyerah? Sudah sering. Tapi hasilnya? Kembali lagi. Mencoba lagi. Kenapa? Karena aku masih beruntung mempunyai Tuhan yang senantiasa bekerja secara luar biasa di hidupku. Tuhan tidak pernah membiarkan anak-anaknya ditimpa masalah yang tidak bisa dihadapinya sendirian. Tuhan memberikan aku orang tua, dosbing kedua yang luar biasa, serta teman-teman sekalian yang sudah mensupportku. Mulai dari memilih topik hingga membantu menruntutkan kembali background ku. Terima kasih banyak, tanpa kalian aku hanyalah butiran debu. Aku doakan yang terbaik untuk kalian juga. GBU.


Komentar
Posting Komentar